Baru-baru ini, biaya makanan terjangkau seperti kimbap dan hamburger di Korea Selatan mengalami kenaikan tajam, dengan harga naik sekitar 40% dalam lima tahun terakhir. Tren ini, yang disebut 'lunch-flation' (gabungan dari lunch dan inflation), menunjukkan bagaimana biaya makan siang meningkat lebih cepat daripada harga konsumen secara keseluruhan. Kenaikan ini disebabkan oleh faktor-faktor seperti meningkatnya biaya bahan baku dan tenaga kerja, yang diperparah oleh isu global seperti perubahan iklim dan fluktuasi mata uang. Akibatnya, konsumen mendapati bahkan pilihan yang seharusnya hemat seperti makanan kafetaria pun menjadi lebih mahal, sehingga menambah beban keuangan bagi mereka yang makan di luar.