Sebuah Makgeolli Expo baru-baru ini di Seoul bertujuan mempromosikan minuman beras tradisional Korea ini untuk pencatatan sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO. Berbeda dengan minuman seperti wine, bir, atau sake dari Jepang, Makgeolli tidak memiliki narasi budaya. Namun, Makgeolli memiliki keunikan seperti kesegaran—karena tidak dipasteurisasi dan mempertahankan ragi alaminya. Para kritikus percaya bahwa Makgeolli membutuhkan ikatan komunitas dan budaya yang lebih kuat untuk meraih status Warisan, dengan menyarankan kebangkitan kembali metode pembuatan tradisional di rumah. Undang-undang yang membatasi pembuatan di rumah menjadi hambatan, berbeda dengan di Jerman di mana produksi rumahan tertentu dibebaskan dari pajak, yang menunjukkan dukungan budaya. Persyaratan UNESCO melampaui sekadar tradisi, mencakup integrasi sosial dan lingkungan, serta praktik budaya bersama.