logo
logo
logo
logo
logo
logo
logo
logo
logo
logo
logo
logo
logo
logo
logo
logo
logo
logo
logo
logo
logo
FlagFillIconNow In Korea
Makanan Keagamaan sebagai Jembatan Sehari-hari: Halal, Makanan Kuil, dan Pemahaman Budaya
user profile image
Creatrip Team
20 days ago
news feed thumbnail
Seorang profesor Korea menceritakan pengalamannya menunjukkan kehidupan di kuil di Korea kepada seorang teman Muslim, termasuk menyantap hidangan di sebuah kuil Buddha. Meski sang teman menghargai suasana kuil yang ramah dan menyambut, penulis mencatat perbedaan aturan makanan dalam agama: halal dalam Islam (apa yang diperbolehkan) dan pembatasan dalam Buddhisme Korea seperti 오신채 (lima sayuran beraroma tajam: daun bawang, bawang putih, kucai, kucai liar, dan bawang bombai) yang dihindari dalam masakan biara sebagai bagian dari praktik asketis. Ritual tradisional seperti barugongyang (발우공양)—jamuan formal menggunakan mangkuk sedekah, di mana mangkuk ditumpuk bersarang dan para penyantap menghindari pemborosan—kian jarang dilakukan karena kebutuhan tenaga kerja dan biaya, sehingga banyak hidangan kuil kini lebih menyerupai makan bersama biasa. Tulisan ini berpendapat bahwa diet keagamaan berfungsi sekaligus sebagai aturan internal (halal atau pengendalian diri secara asketis) dan sebagai jembatan budaya: makanan kuil dan program templestay kerap memungkinkan non-Buddhis, termasuk Muslim, merasakan budaya keagamaan Korea dengan aman dan mendorong saling pengertian.
Suka informasinya?

LoadingIcon