Koki Jeon Ho-je menulis tentang peran praktis dan budaya jahe dalam masakan Korea dan Asia. Meskipun banyak rumah tangga jarang membeli jahe dan bisa mengering jika tidak terpakai, aromanya yang tajam penting untuk menetralkan rasa amis atau bau hewani—seperti saat merebus tulang punggung babi untuk gamjatang (감자탕). Jepang menggunakan jahe acar dengan sushi dan mangkuk nasi; pho Vietnam mendapat kedalaman dan aroma yang sejuk serta bulat dari jahe kering, yang juga memperkuat sifat antioksidan dan antiinflamasi selama proses pengeringan. Jahe membuat minuman musim dingin yang menghangatkan—diiris dan diawetkan dengan gula atau madu atau direbus dengan jeruk—dan dulunya direbus di atas tungku batu bara tua untuk wanginya dan kelembapan. Ada manisan jahe tradisional Korea (생강과자) yang dijual di pasar, dan tidak seperti bawang putih, jahe diperbolehkan dalam masakan kuil karena tidak mengganggu meditasi. Banyak produk dan olahan jahe—mirin jahe, pure beku yang dicampur dengan bawang putih—memperpanjang umur simpan dan memudahkan menambahkan rasa menghangatkan jahe ke hidangan. Koki mendorong penggunaan jahe untuk menjaga kesehatan tubuh dan pikiran selama musim dingin.