Makanan Penutup Tradisional Korea yang Harus Dicoba di Korea
Panduan editor Creatrip tentang tteok, hangwa, bingsu, hotteok, dan makanan manis modern yang mengembalikan cita rasa lama ke kafe dan kotak hadiah Korea.
Makanan penutup Korea lebih tenang dari yang terlihat, dan itu justru daya tariknya
Pencuci mulut Korea tidak selalu terlihat mencolok dengan lapisan krim tebal, krim kocok berat, atau ledakan gula yang dramatis. Lebih sering, mereka hadir sebagai kue beras kenyal yang ditaburi bubuk kedelai panggang, kue goreng mengkilap yang direndam dalam sirup jahe, semangkuk minuman kayu manis dingin, atau es serut yang dilapisi kacang merah manis dan potongan lembut tteok (kue beras Korea).
Irama yang lebih lembut itulah yang membuat mereka patut diperhatikan saat bepergian di Korea. Permen tradisional Korea dibangun di sekitar tekstur, biji-bijian, kemanisan yang terkendali, warna musiman, dan makna. Yakgwa (kue goreng manis dengan sirup dan minyak wijen) yang bagus harum dengan minyak wijen dan sirup. Injeolmi (tteok kenyal ditaburi bubuk kedelai panggang) yang bagus meregang lembut sebelum meleleh menjadi bubuk kedelai yang beraroma kacang. Bingsu (es serut Korea dengan topping seperti kacang merah dan buah) yang bagus tidak hanya dingin dan manis, tetapi juga berasa susu, kenyal, berbuah, dan bisa disendok sekaligus.

Di Creatrip, kami berpikir kue tradisional Korea paling mudah dinikmati ketika Anda berhenti membandingkannya dengan kue dan pastry Barat. Mereka memiliki logika sendiri. Begitu Anda memahaminya, sebuah toko tteok (kue beras Korea), food hall di department store, etalase dessert di kafe, atau kios jalanan tiba-tiba menjadi jauh lebih menarik.
Dua keluarga besar: hangwa (manisan tradisional Korea) dan tteok (kue beras Korea)
Budaya makanan penutup Korea sangat luas, tapi dua kata membuat keseluruhan kategori lebih mudah dipahami: hangwa (manisan tradisional Korea) dan tteok (kue beras Korea).
hangwa (manisan tradisional Korea): manisan tradisional Korea
hangwa (manisan tradisional Korea) mengacu pada manisan tradisional Korea yang bukan tteok. Keluarga ini mencakup yakgwa (kue goreng manis dengan sirup dan minyak wijen), yugwa (kue beras goreng manis), gangjeong (kue renyah dari beras atau biji-bijian yang dilapisi sirup), dasik (kue cetak tradisional untuk upacara minum teh), jeonggwa (manisan dari buah atau akar yang diawetkan dengan sirup), dan banyak manisan lain yang dibuat dengan menggoreng, mengeringkan, menekan, mencetak, atau mengikat bahan dengan madu, sirup gandum, atau jocheong (sirup gula tradisional Korea).
Secara historis, hangwa (manisan tradisional Korea) bukanlah camilan sehari-hari untuk semua orang. Bahan seperti gandum, minyak, dan madu bernilai tinggi, dan manisan ini terkait erat dengan ritual, perayaan, pernikahan, upacara leluhur, dan meja kelas atas. Sejarah itu salah satu alasan mengapa hangwa (manisan tradisional Korea) premium masih terasa sangat cocok untuk kotak kado hingga hari ini.

Bagi pelancong, hangwa (manisan tradisional Korea) juga termasuk salah satu kategori pencuci mulut tradisional yang lebih mudah dibawa pulang. Banyak versi dijual dalam kemasan yang dirancang untuk hadiah, dan beberapa item seperti yakgwa (kue goreng manis dengan sirup dan minyak wijen) dapat memiliki masa simpan yang relatif panjang tergantung resep dan kemasan. Selalu periksa label dan instruksi penyimpanan sebelum memasukkannya ke dalam koper Anda.
tteok (kue beras Korea): Kue beras Korea
tteok (kue beras Korea) adalah dunia kue beras Korea, biasanya dibuat dari beras ketan atau tepung beras non-ketan yang dikukus, ditumbuk, dibentuk, dilapis, atau diisi. Contoh terkenal termasuk songpyeon (tteok isi tradisional khas Chuseok), injeolmi (tteok kenyal ditaburi bubuk kedelai panggang), chapssaltteok (mochi Korea / tteok beras ketan), dan baekseolgi (tteok kukus putih lembut).
tteok (kue beras Korea) bisa menjadi pencuci mulut, camilan, makanan upacara, bahan makanan jalanan, atau bahkan dasar untuk hidangan gurih seperti tteokbokki (olahan kue beras pedas populer sebagai street food). Teksturnya yang kenyal membawa banyak simbolisme di Korea, keberuntungan yang menempel, hubungan yang langgeng, pengetahuan yang melekat sebelum ujian, kemakmuran yang dekat. Mungkin terdengar puitis, tapi hal itu sangat nyata dalam bagaimana tteok (kue beras Korea) muncul saat hari raya, ulang tahun, pernikahan, upacara leluhur, acara sekolah, dan pertemuan musiman.

Bagi pengunjung, tteok (kue beras Korea) paling baik didekati dengan rasa ingin tahu tentang teksturnya. Beberapa empuk dan berdebu, beberapa kenyal dan padat, beberapa diisi dengan kacang merah manis, wijen, kastanye, atau sirup mirip madu. Tidak semua tteok (kue beras Korea) dimaksudkan untuk dibawa jauh, jadi nikmati potongan segar saat siang hari dan pilih produk kemasan atau beku hanya jika penyimpanannya jelas.
Mengapa pencuci mulut Korea seringkali tidak terlalu manis
Salah satu kesalahan umum adalah mencicipi makanan penutup Korea dan berpikir, ‘Ini tidak cukup manis.’ Pemanis Korea sering menargetkan keseimbangan daripada sensasi yang kuat. Kemanisan bisa berasal dari madu, jocheong (sirup gula tradisional Korea), sirup dari biji-bijian, kacang merah, buah, atau beras ketan, tapi biasanya berbagi sorotan dengan aroma panggang biji-bijian, bubuk kacang yang gurih, nuansa herbal, kenyalnya pati, atau lapisan goreng yang renyah.
Estetika makanan penutup Korea juga mengambil dari obangsaek, sistem tradisional lima warna yang terkait dengan arah dan keseimbangan. Anda melihat ini pada songpyeon (tteok isi tradisional khas Chuseok) yang berwarna-warni, kue beras pelangi, hijau alami dari mugwort, kuning dari labu, nada merah-pink dari omija, dan hitam pekat dari wijen hitam. Warna bukan hanya hiasan, warna membawa gagasan musim, berkat, dan keharmonisan.

Inilah mengapa makanan penutup Korea terasa begitu berbeda dari manisan yang mengutamakan gula. Kenikmatannya ada pada kenyalnya, harum minyak wijen, sejuknya punch omija, lembut berbutir dari tepung beras kukus, kriuknya gangjeong (kue renyah dari beras atau biji-bijian yang dilapisi sirup), dan bagaimana manisnya yang lembut membuat Anda terus kembali untuk satu gigitan lagi.
yakgwa (kue goreng manis dengan sirup dan minyak wijen): kue tradisional mengkilap yang sedang dibicarakan semua orang
Jika ada satu manisan tradisional yang benar-benar memasuki budaya kafe modern Korea, itu adalah yakgwa (kue goreng manis dengan sirup dan minyak wijen). Kue berbentuk bunga berwarna keemasan ini biasanya dibuat dari adonan tepung gandum yang dicampur dengan minyak wijen dan madu atau sirup, kemudian digoreng dan direndam lagi dalam sirup. Namanya mengandung karakter untuk obat karena madu dan minyak wijen dulu dihargai sebagai bahan obat.
Sebuah yakgwa (kue goreng manis dengan sirup dan minyak wijen) yang dibuat dengan baik tidak hanya manis. Itu berlapis, sedikit padat, harum, dan mengkilap, dengan kunyahan lembut setelah gigitan pertama. Persiapan tradisional bisa sangat teknis, sering melibatkan penanganan adonan yang hati-hati, penggorengan pada suhu berbeda, dan perendaman dalam sirup beraroma jahe atau jocheong (sirup gula tradisional Korea).

yakgwa (kue goreng manis dengan sirup dan minyak wijen) mengalami kebangkitan besar di Korea sejak sekitar 2021–2022. Sekarang kamu akan menemukannya tidak hanya di toko tradisional, tetapi juga sebagai camilan di toko serba ada, pencuci mulut kafe, pasangan es krim, latte, dan paket hadiah premium. Beberapa versi modern lebih lembut dan kaya, sementara yang lain lebih renyah, lebih kecil, atau berisi. Serunya adalah membandingkan gaya.
Creatrip note: yakgwa (kue goreng manis dengan sirup dan minyak wijen) adalah kandidat oleh-oleh yang kuat karena banyak versi kemasan yang tahan di rak, tetapi masa simpan sangat bervariasi. Beberapa produk bisa bertahan berminggu-minggu atau berbulan-bulan tergantung kemasan dan resep, jadi periksa tanggal dan label penyimpanan sebelum membeli beberapa kotak.
Yugwa (kue beras goreng manis), gangjeong (kue renyah dari beras atau biji-bijian yang dilapisi sirup), dasik (kue cetak tradisional untuk upacara minum teh), jeonggwa (manisan dari buah atau akar yang diawetkan dengan sirup): rak hangwa (manisan tradisional Korea) untuk dinikmati pelan-pelan
Yakgwa (kue goreng manis dengan sirup dan minyak wijen) sering mendapat sorotan modern, tapi hangwa (manisan tradisional Korea) punya banyak bintang yang lebih tenang.
yugwa (kue beras goreng manis) adalah kue beras ringan dan mengembang yang dibuat melalui proses yang melelahkan: beras ketan direndam, dikukus, dikeringkan, digoreng hingga mengembang, lalu dilapisi sirup dan digulingkan dalam butiran beras, wijen, bubuk kedelai, atau topping lain. Penampilannya bisa tampak halus, hampir seperti awan, namun itu adalah hasil dari keterampilan yang serius.
gangjeong (kue renyah dari beras atau biji-bijian yang dilapisi sirup) renyah dan beraroma kacang, sering dibuat dengan mengikat butir, biji, atau kacang-kacangan menggunakan madu atau sirup dari biji-bijian. Ini adalah jenis manisan yang mudah dinikmati sebagai camilan karena lebih menonjolkan kerenyahan dan aroma daripada rasa manis yang berat.
dasik (kue cetak tradisional untuk upacara minum teh) ditekan ke dalam cetakan, seringkali terbuat dari bubuk biji-bijian panggang, bubuk wijen, pati, serbuk sari, atau bahan serupa yang dicampur dengan madu. Biasanya disajikan dengan teh, dan pesonanya halus, padat, harum, serta cantik.
jeonggwa (manisan dari buah atau akar yang diawetkan dengan sirup) adalah buah, akar, atau kulit buah yang diawetkan dalam gula, madu, atau sirup. Anggap ini bukan permen, melainkan gigitan mengkilap yang disajikan untuk meja teh.

Ketika menjelajahi food hall atau toko hadiah, hangwa (manisan tradisional Korea) bisa mudah diabaikan karena mungkin terlihat formal atau kuno. Jangan terburu-buru. Kotak terbaik menonjolkan variasi: ringan, renyah, kenyal, bersirup, beraroma kacang, dan potongan yang tampak seperti bunga bersama-sama.
tteok (kue beras Korea) yang perlu diketahui sebelum Anda memesan
tteok (kue beras Korea) bukan sekadar satu pencuci mulut, ini adalah sebuah bahasa tersendiri. Ini adalah jenis-jenis yang paling mungkin ditemui pelancong.
songpyeon (tteok isi tradisional khas Chuseok)
songpyeon (tteok isi tradisional khas Chuseok) adalah kue beras berbentuk bulan sabit yang sangat terkait dengan Chuseok, hari panen Korea. Biasanya diisi dengan wijen, kacang, atau kastanye, dan diberi warna dengan bahan alami seperti mugwort atau gardenia. Bentuk dan warnanya membuatnya menjadi salah satu tteok musiman yang paling bermakna di Korea.

Songpyeon (tteok isi tradisional khas Chuseok) paling istimewa saat musim liburan, meskipun ketersediaannya bisa berbeda tergantung toko dan waktu dalam setahun. Menjelang Chuseok, sebaiknya mencarinya di toko tteok (kue beras Korea) yang benar-benar ahli daripada menganggapnya sekadar kue beras biasa.
injeolmi (tteok kenyal ditaburi bubuk kedelai panggang)
injeolmi (tteok kenyal ditaburi bubuk kedelai panggang) dibuat dengan menumbuk beras ketan hingga kenyal, lalu dilapisi bubuk kedelai panggang. Rasanya gurih, lembut, dan sangat khas Korea. Kafe modern sering menggunakan injeolmi (tteok kenyal ditaburi bubuk kedelai panggang) sebagai inspirasi rasa untuk roti panggang, bingsu (es serut Korea dengan topping seperti kacang merah dan buah), latte, dan dessert krim.
Ini adalah tteok (kue beras Korea) pertama yang baik bagi pelancong yang menginginkan sesuatu yang mudah didekati namun tetap tradisional. Bubuk kedelai panggang memberinya aroma hangat, hampir seperti kacang, tanpa semanis permen.
chapssaltteok (mochi Korea / tteok beras ketan)
chapssaltteok (mochi Korea / tteok beras ketan) adalah kue beras ketan yang sering diisi dengan pasta kacang merah manis. Pengunjung internasional kadang membandingkannya dengan mochi, yang masuk akal secara struktur, tapi konteks Korea berbeda, karena muncul sebagai camilan, hadiah, dan makanan simbolis yang unik.
Jika Anda menyukai makanan penutup kenyal dengan isian lembut, mulailah di sini. Siapkan diri bahwa tekstur akan lebih penting daripada tingkat kemanisannya.
baekseolgi (tteok kukus putih lembut)
baekseolgi (tteok kukus putih lembut) adalah kue beras kukus putih yang sangat terkait dengan kesucian dan keberuntungan. Kue ini muncul dalam acara kehidupan seperti hari ke-100 bayi atau ulang tahun pertama. Teksturnya lebih rapuh dan seperti awan daripada kenyal, menunjukkan sisi lain dari tteok (kue beras Korea) selain kekenyalan.
Pat-sirutteok
Pat-sirutteok adalah tteok (kue beras Korea) berlapis yang dikukus dengan kacang merah. Rasanya hangat, sedikit manis, dan sangat klasik. Alih-alih krim atau mentega, teksturnya berasal dari tepung beras, kacang, dan uap.

Kacang merah: tulang punggung tenang dari manisan Korea
Kacang merah muncul di mana-mana dalam budaya makanan penutup Korea: chapssaltteok (mochi Korea / tteok beras ketan), pat-sirutteok, bingsu (es serut Korea dengan topping seperti kacang merah dan buah), roti isi manis, donat beras ketan, dan lainnya. Makanan penutup kacang merah Korea sering mempertahankan sedikit rasa kacang yang bersahaja, bukan menutupi semuanya dengan gula.
Perpaduan itu bisa mengejutkan pelancong. Kacang merah tidak berusaha menjadi cokelat. Rasanya lembut, beraroma kacang, sedikit manis, dan menghangatkan. Setelah terbiasa, itu menjadi salah satu rasa yang paling mudah dikenali di berbagai menu pencuci mulut Korea.
Patbingsu dan bingsu (es serut Korea dengan topping seperti kacang merah dan buah) modern: makanan penutup musim panas Korea yang bisa disendok
Patbingsu adalah salah satu pencuci mulut Korea yang paling dikenal secara internasional: es yang dihaluskan atau dihancurkan disajikan dengan kacang merah manis, susu, susu kental manis, buah, dan potongan tteok (kue beras Korea) yang kenyal. Semangkuk klasik menggabungkan es dingin, manisnya krim, kacang yang lembut, dan tteok (kue beras Korea) dalam satu sendok.

Bingsu (es serut Korea dengan topping seperti kacang merah dan buah) modern jauh melampaui kacang merah. Anda mungkin melihat mangga, melon, injeolmi (tteok kenyal ditaburi bubuk kedelai panggang), wijen hitam, matcha, tiramisu, cokelat, dan versi mewah bergaya hotel. Topping berubah, tetapi struktur Korea tetap: es dingin, elemen biji-bijian atau kacang, potongan kenyal, rasa susu, dan sentuhan visual yang melimpah.
Terbaik untuk: dibagikan setelah makan atau mendinginkan diri saat cuaca hangat.
Trade-off: patbingsu klasik memberi Anda profil rasa Korea yang paling jelas, sedangkan bingsu (es serut Korea dengan topping seperti kacang merah dan buah) bergaya buah atau kafe mungkin terasa lebih akrab dan fotogenik. Keduanya valid, keduanya hanya menceritakan kisah yang berbeda.
Sikhye, sujeonggwa, hwachae, dan omija drinks
Pencuci mulut Korea tidak hanya sesuatu untuk dikunyah, itu juga bisa sesuatu untuk diminum.
Sikhye adalah minuman beras manis yang sering disajikan dingin. Sujeonggwa adalah punch kayu manis-jahe, juga biasa dinikmati dingin. Hwachae merujuk pada minuman buah bergaya punch, dan omija menghadirkan rasa beri yang cerah, asam-manis, sering dikaitkan dengan gagasan lima rasa.
Ada juga tteok-sudan, pencuci mulut dingin yang halus di mana irisan tipis tteok (kue beras Korea) dilapisi pati, dimasak sebentar, lalu diletakkan dalam air omija dingin atau air madu dengan kacang pinus dan es.

Minuman ini sangat cocok setelah hidangan yang berat. Alih-alih memesan makanan penutup lain yang kaya, minuman tradisional dingin bisa terasa menyegarkan tanpa membuat rasa di meja tiba-tiba menjadi terlalu manis.
Hotteok: kue jalanan manis dengan isian meleleh
Hotteok berada di antara pancake, donat, dan makanan penutup jalanan. Versi manis klasik diisi dengan gula merah, kayu manis, dan kacang-kacangan, lalu digoreng di wajan sehingga isian meleleh menjadi sirup. Rasanya terbaik ketika panas hingga agak berbahaya, lezat tetapi bukan sesuatu yang bisa digigit sembarangan.

Ada juga versi gurih seperti yachae hotteok, diisi sayuran dan sering digoreng untuk kulit yang lebih renyah. Dibandingkan hotteok manis, hotteok sayuran lebih mirip camilan-yang-bisa-jadi-makan daripada pencuci mulut, tapi ini menunjukkan betapa fleksibelnya adonan itu.
Creatrip tip: Konsumsi hotteok yang manis segera setelah membelinya. Daya tariknya adalah kontras antara luar yang renyah, adonan yang lembut, dan sirup cair di dalamnya. Menunggu terlalu lama menghilangkan bagian terbaiknya.
Dalgona, hoppang, roti madu, dan manisan modern Korea lainnya
Tidak semua makanan penutup Korea bersifat kuno, dan itu bagian dari keseruannya. Korea memiliki kategori manisan lokal yang hidup yang berada di antara nostalgia, budaya toko serba ada, budaya kafe, dan makanan kaki lima.
Anda mungkin menemukan dalgona, permen gula renyah yang kembali menjadi terkenal secara global melalui budaya pop Korea, hoppang, roti kukus hangat yang sering terlihat di minimarket saat bulan lebih dingin, injeolmi (tteok kenyal ditaburi bubuk kedelai panggang) toast, roti bergaya kafe honey bread, es krim Melona, dan camilan kemasan seperti Pepero.
Ada juga klasik bergaya toko roti regional seperti Hwangnam-ppang, pastri kenari Cheonan, dan roti madu Tongyeong. Beberapa lebih modern daripada tradisional, tetapi mereka bagian dari cara orang Korea benar-benar ngemil, memberi hadiah, dan mengantri hari ini.

Hidangan penutup regional Korea yang layak dikenal
Nasi ketan dan manisan Korea sangat dipengaruhi oleh daerah asalnya. Bahan lokal, kondisi pertanian, dan kenangan kuliner membentuk apa yang membuat setiap wilayah dikenal.
Beberapa nama yang perlu diperhatikan:
- Jeongeup gijeongtteok: kue beras fermentasi yang terkait dengan ragi makgeolli dan beras lokal.
- Haenam mosi tteok: kue beras yang dibuat dengan daun ramie, terkait dengan budaya ramie di daerah tersebut.
- Pyeongchang gamja tteok: kue beras kentang yang mencerminkan budaya kentang dataran tinggi di Gangwon-do.
- Busan and Gijang sweet pumpkin sirutteok: kue beras kukus berlapis yang menggunakan labu manis, terkait dengan panen lokal pesisir.
- Yeonggwang mosi leaf songpyeon dan Uiryeong manggae tteok: contoh kue beras regional dengan identitas tempat yang lebih kuat.

Ini tidak selalu mudah ditemukan di pusat Seoul seperti yakgwa (kue goreng manis dengan sirup dan minyak wijen) atau injeolmi (tteok kenyal ditaburi bubuk kedelai panggang), tapi layak diperhatikan saat bepergian di luar ibu kota atau melihat sudut produk khas regional di gedung makanan yang lebih besar. Untuk produk regional, kemasan, ketersediaan, dan kesegaran bisa berbeda, jadi periksa informasi toko saat ini sebelum membuat penyimpangan.
Gelombang baru: dessert halmaennial, Gaeseong juak, dan kotak hadiah premium
Salah satu tren pencuci mulut Korea yang paling menarik adalah naiknya selera halmaennial — perpaduan nostalgia era nenek dan rasa penasaran retro Generasi Milenial/Gen Z, yang menjelaskan mengapa pencuci mulut yang dulu diasosiasikan dengan hari libur atau kerabat yang lebih tua kini muncul di kafe bergaya, pop-up, dan food hall di department store.
The clearest example after yakgwa (kue goreng manis dengan sirup dan minyak wijen) is Gaeseong juak. Often described as a kind of Korean doughnut, it is made with glutinous rice, a little wheat flour, and makgeolli in the dough, then fried and soaked in ginger-cinnamon syrup or jocheong (sirup gula tradisional Korea). The result is chewy, glossy, rich, and very pretty.

Beberapa toko khusus menjual Gaeseong juak dengan harga premium, sering sekitar 2.500–5.000 KRW per buah tergantung pada toko dan produk. Harga berubah cepat, terutama di pop-up dan konter department store, jadi anggap itu sebagai referensi kasar bukan aturan tetap.
Brand hangwa (manisan tradisional Korea) premium juga telah mengikuti budaya hadiah mewah. Set hadiah di kisaran 30,000–50,000 KRW telah menjadi bagian dari scene pencuci mulut modern Korea, terutama saat liburan dan di department store. Ini bukan cara termurah untuk mencicipi manisan tradisional, tapi masuk akal bagi pelancong yang menginginkan kemasan elegan, variasi, dan potensi lebih baik untuk dimasukkan ke koper.
Golden Piece dan arah oleh-oleh bandara
Contoh bagus dari pergeseran ke segmen premium adalah Golden Piece, sebuah merek makanan penutup Korea yang dikenal karena yakgwa (kue goreng manis dengan sirup dan minyak wijen) yang dipoles dan set hadiah yang layak diberikan. Setelah membuka showroom di Hannam-dong, merek ini muncul melalui saluran ritel premium, termasuk department store dan platform online, dan memasuki saluran bebas bea Bandara Incheon Terminal 2 pada 2024.
Daya tarik merek ini mudah dipahami dari perspektif pelancong: kue kecil Korea, kemasan elegan, cerita bertema warisan budaya, dan aksesibilitas di bandara. Ketersediaan dapat berubah menurut musim dan saluran ritel, jadi periksa informasi toko atau bandara terbaru sebelum mengandalkannya untuk oleh-oleh menit terakhir.

Pilih sesuai suasana hati
Terkadang cara termudah memesan makanan penutup Korea bukan dengan nama, melainkan dengan keinginan
Saat Anda menginginkan kenyal
Pilih injeolmi (tteok kenyal ditaburi bubuk kedelai panggang), chapssaltteok (mochi Korea / tteok beras ketan), honey-filled tteok, atau topping tteok pada bingsu (es serut Korea dengan topping seperti kacang merah dan buah). Ini adalah tekstur yang membuat makanan penutup beras Korea begitu khas.
Kapan Anda menginginkan tekstur renyah
Cobalah gangjeong (kue renyah dari beras atau biji-bijian yang dilapisi sirup), yugwa (kue beras goreng manis), atau hotteok yang baru digoreng. Gangjeong terasa lebih bersih dan berkacang, yugwa lebih ringan dan halus, hotteok lebih kaya dan berantakan dengan cara yang menyenangkan.
Ketika Anda menginginkan keanggunan meja-teh
Pilih dasik (kue cetak tradisional untuk upacara minum teh), jeonggwa (manisan dari buah atau akar yang diawetkan dengan sirup), atau set hangwa (manisan tradisional Korea) campuran. Ini adalah manisan lembut, lebih baik dinikmati pelan-pelan daripada dimakan sambil berjalan.
Saat kamu menginginkan sesuatu yang sedang tren
Cari yakgwa (kue goreng manis dengan sirup dan minyak wijen) desserts, Gaeseong juak, injeolmi (tteok kenyal ditaburi bubuk kedelai panggang) café desserts, atau rasa bingsu (es serut Korea dengan topping seperti kacang merah dan buah) modern. Dasar tradisionalnya masih ada, tapi gayanya terasa sangat kekinian.
Ketika Anda ingin oleh-oleh
Produk kemasan yakgwa (kue goreng manis dengan sirup dan minyak wijen), gangjeong (kue renyah dari beras atau biji-bijian yang dilapisi sirup), dan set hadiah hangwa (manisan tradisional Korea) premium biasanya membuat lebih sedikit stres dibandingkan tteok. Tteok (kue beras Korea) beku bisa menjadi produk yang sangat baik, tapi mereka tidak ideal untuk jalan-jalan santai kecuali Anda punya rencana jelas untuk penyimpanan dan transportasi.

Kesalahan umum yang dilakukan pelancong terhadap hidangan penutup Korea
Kesalahan pertama adalah mengira semuanya akan sangat manis. Makanan penutup Korea sering menonjolkan rasa gandum, kenyal, rasa kacang, aroma sirup, atau nuansa herbal. Biarkan rasanya halus.
Yang kedua adalah membeli terlalu banyak tteok (kue beras Korea) segar terlalu pagi. Tekstur tteok (kue beras Korea) penting, dan petunjuk penyimpanan bahkan lebih penting. Jika Anda membawanya saat berpindah antara kafe, istana, transfer kereta bawah tanah, dan reservasi makan malam, pilih porsi kecil.
Ketiga, menganggap semua bingsu (es serut Korea dengan topping seperti kacang merah dan buah) sama saja. Patbingsu klasik dengan kacang merah dan kue beras sangat berbeda dari bingsu mangga atau bingsu tiramisu. Cobalah setidaknya satu versi yang cenderung tradisional sebelum memutuskan apa arti bingsu (es serut Korea dengan topping seperti kacang merah dan buah) bagi Anda.
Yang keempat adalah melihat-lihat food hall di department store. Harganya mungkin lebih mahal daripada toko lingkungan, tapi tempat ini nyaman untuk membandingkan yakgwa (kue goreng manis dengan sirup dan minyak wijen) , hangwa (manisan tradisional Korea) , set kue beras modern, dan barang hadiah musiman di satu tempat.
Kelima, lupa memeriksa detail praktis. Pop-up berpindah, konter bandara berubah, kue beras musiman datang dan pergi, dan harga untuk pencuci mulut yang sedang tren bisa berubah cepat. Untuk apa pun yang akan Anda tempuh ke seberang kota untuk membelinya, periksa informasi resmi toko atau pengecer terbaru.
Rute pencicipan singkat untuk beberapa hari pertama Anda di Korea
Untuk pengenalan yang seimbang, bagi pencicipan makanan penutup Korea di sepanjang perjalanan Anda daripada mencoba memakannya semua dalam satu sore.
Mulailah dengan injeolmi (tteok kenyal ditaburi bubuk kedelai panggang) atau chapssaltteok (mochi Korea / tteok beras ketan) dari toko tteok atau food hall untuk memahami sisi kue beras yang kenyal. Lalu coba yakgwa (kue goreng manis dengan sirup dan minyak wijen) dalam bentuk kemasan tradisional dan juga versi bergaya kafe modern jika menemukannya. Di hari yang hangat, bagi patbingsu atau injeolmi bingsu (es serut Korea dengan topping seperti kacang merah dan buah). Simpan hotteok untuk camilan jalanan saat bisa memakannya panas. Sebelum meninggalkan Korea, lihat-lihat hangwa (manisan tradisional Korea) gift set atau yakgwa dalam kemasan untuk oleh-oleh.

Perpaduan itu memberi inti budaya makanan penutup Korea: beras, sirup, kacang, sereal panggang, es serut dingin, donat jalanan hangat, dan kemasan yang indah. Ini juga membuat pengalaman tetap menyenangkan, bukan berubah menjadi daftar periksa makanan penutup.
Gigitan terakhir
Pencuci mulut tradisional Korea tidak beku di masa lalu. Mereka bergerak antara meja leluhur, nampan hari raya, toko tteok (kue beras Korea) di lingkungan, konter toko serba ada, kotak hadiah bandara, minimarket, dan kafe bergaya. Sekali perjalanan bisa membawa Anda dari sepotong lembut songpyeon (tteok isi tradisional khas Chuseok) ke yakgwa (kue goreng manis dengan sirup dan minyak wijen) premium yang mengkilap, dari bingsu (es serut Korea dengan topping seperti kacang merah dan buah) kacang merah ke hotteok panas di pinggir jalan.
Cara terbaik menikmatinya adalah memperhatikan apa yang membuat pencuci mulut Korea begitu istimewa: kekenyalan, aroma gandum, rasa manis yang terkendali, warna alami, dan nuansa musiman. Setelah mencicipinya dengan pola pikir itu, pencuci mulut Korea menjadi bukan sekadar pelengkap setelah barbekyu atau mie, melainkan salah satu cara paling indah memahami budaya makanan Korea.

